Mengajarkan Kemandirian Kepada Anak bagian 3

Dear all
Kemandirian juga sangat di pengaruhi oleh Emotional Intelligent.  Dewasa ini kita sering dengar tentang EQ, baik di media cetak maupun media elektronik. Dari acara Motivasi, Konsultasi Pendidikan sampai dengan Talk Show. Contoh nyata seperti acara reality show di Kick Andy dan lainnya, bagaimana seorang yang cacat dapat menjadi salah satu orang tersukses di Indonesia. Tidak terbatas dengan itu, lihatlah disekililing kita, seseorang  dengan kemampuan biasa-biasa saja dapat menjadi pemimpin, orang terkaya, bahkan pemimpin Dunia. Lihatlah kisah-kisah orang sukses di Dunia. Apakah hanya sebagian kecil dari mereka yang mempunyai kemampuan intelegensia (IQ) biasa-biasa saja? Jawaban yang paling tepat mungkin tidak semua dari mereka yang pintar secara akademik.
Disisi yang lain juga kita dengar banyak kebanggan terutama dari para orang tua yang mendapatkan hasil tes IQ anaknya yang diatas rata-rata,  Banyak kita kenal penemu dengan IQ diatas rata-rata seperti Albert Enstein , Mark sang penemu Facebook dan banyak lainnya.Merekapun banyak yang menjadi orang sukses, kaya, bahkan penguasa Dunia.
Pertanyaan-pertanyaan yang sering terjadi secara acak dan banyak tim kami temukan dilapangan antara lain :
1. Apakah saya bisa sepintar dia ?
2. Anak saya tidak bisa konsentrasi dalam pelajaran, bagaimana ini?
3. Kenapa saya selalu gagal melakukan itu?
4. IQ anak saya pas-pas an, bagaimana bisa rangking 1 ? atau saya ber IQ standar, bagaimana bisa seperti       dia ?
5. Anak saya susah diatur, bagaimana ya?
Mari kita lihat definisinya dulu antara IQ dan EQ, bagaimana ke-2 nya bisa berjalan sinergi terhadap keberjhasilan hidup, dan bagaimana Daniel Goleman bisa mengatakan
bahwa 80% keberhasilan hidup ditentukan oleh kecerdasan emosional, dan akhirnya bagaimana Lembaga Franchise Kursus i-tutor.net mengedepankan hal itu dalam pembelajarannya.
IQ (Intelligence Quotient)
Istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 %.
Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup.IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak dengan IQ-nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.
 Hasil tes IQ umum nya seperti ini :
TINGKAT KECERDASAN
IQ
Genius
Di atas 140
Sangat Super
120 – 140
Super
110 – 120
Normal
90 -110
Bodoh
80 – 90
Perbatasan
70 – 80
Moron / Dungu
50 – 70
Imbecile
25-50
Idiot
0 – 25
Bisakah seorang dengan IQ Normal 90-110 menjadi sukses? jawabannya adalah Bisa 
( lihat disekiling Anda dari semua sumber informasi dan amatilah fakta-fatka yang ada)
Bisakah orang dengan IQ Bodoh menjadi sukses? jawabannya adalah Jarang
( lihat disekiling Anda dari semua sumber informasi dan amatilah fakta-fatka yang ada)
Bisakah seseorang dengan IQ Genius gagal dalam kehidupan? jawabannya adalah Bisa
( lihat disekiling Anda dari semua sumber informasi dan amatilah fakta-fatka yang ada)
Demikianlah seterusnya pertanyaan demi pertanyaan Anda amati. Maka dari data diatas, dapat kita simpulkan bahwa IQ hanyalah sebuah tes standar kemampuan otak. Jika dibawah rata-rata,maka seseorang memerlukan perhatian khusus, dan hal itupun tidak menjamin sukses atau tidaknya di kehidupan. IQ hanyalah sebuah tiket yang memudahkan Anda mencapai kesukses, Bersyukurlah Pada Pencipta Anda, TUHAN SEMESTA ALAM atas karuniaNya tentang IQ yang telah diberikan kepada Anda, dan jangan sesekali Anda mengeluh tentang hal itu. Karena DIA telah mempersembahkan Kecerdasan Emosional (EQ) untuk Anda. Bagaimanakah dengan orang terdekat Anda yang  ber IQ dibawah rata-rata? EQ Anda yang dapat membantu mereka mencapai kemandirian dalam hidupnya. Bersyukurlah selalu Anda dapat memberi dengan EQ Anda.
 EQ (Emotional Quotient)
 
EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh Daniel Golleman. Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog, Goleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan pikiran emosional digerakkan oleh emosi. Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama teknis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.
Emosi tersebut beragam, namun dapat dikelompokkan kedalam kategori emosi seperti; marah, takut, sedih, gembira, kasih sayang dan takjub (Santrock, 1994).
 
Wilayah Kecerdasan Emosional ini akan di bahas pada Bagian Ke-2 yang diantaranya meliputi :
1. Kesadaran diri
2. Mampu mengelola Emosi
3. Memotivasi Diri
4. Mampu Berempati
5. Mampu menjalin sosial dengan orang lain   
 
Contoh dari hasil pengamatan
Orang yang ber IQ Genius cenderung susah menerima pendapat orang lain, sibuk dengan Argumentasinya dan pengamatannya sendiri, bagaimana dengan perasaan orang lain? , ketika seorang ber IQ tinggi menghadapi persoalan yang membutuhkan kepekaan dia akan sibuk dengan logikanya baru kemudian bertindak, sebagai contoh
Ketika seorang melihat suatu peluang usaha, si A yang ber IQ  genius tanpa mengenal EQ baik secara langsung maupun tidak langsung  akan menghitung terlebih dahulu, Untung atau Rugi? Sedangkan Orang yang mengedepankan EQ nya walau dengan IQ pas-pas an akan cepat mengambil tindakan terlebih dahulu sehingga peluang itu tidak terbuang, Untung atau Rugi? Baru dicarilah solusinya. Contoh nyata yang paling mendekati untuk kasus pengusaha adalah Bob Sadino dalam bukunya ” Belajar Goblok”.
Maka dari Tinjauan Bagian Pertama ini kita simpulkan sementara bahwa Kemandirian lebih membutuhkan peran EQ. IQ adalah sebuah tiket awal untuk mempermudah hidup Anda, sedangkan EQ adalah Tiket yang harus kita raih untuk meraih kesuksesan dalam mengarungi kehidupan yang fana dan penuh dinamika ini.
 momentcam_20150102094156
Demikianlah artikel kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.
 momentcam_20150213003759
Best Regards
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Comments

  • inka
    Reply

    Lanjut dongs

  • sutan
    Reply

    tes eq ada gak?

    • sec

      EQ umumnya di bentuk melalui lingkungan, dapat dilihat dari keseharian individu tersebut. Sebagai contoh, kita bisa lihat orang yang ber-empati terhadap bawahannya, pandai bergaul, kemampuan leadership yang kuat. Tes untuk EQ ini biasanya berupa quisioner yang memuat pertanyaan-pertanyaan psikotest. Akan tetapi toak ukurnya tetap ada pada kenyataan di lapangan 🙂

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Ada yang bisa kami bantu?