komik mandarin 2

Pentingkah sekolah bertaraf Internasional sejak usia dini?

Berdasarkan judul diatas, “Pentingkah sekolah bertaraf internasional sejak dini”? Untuk menjawab pertanyaan ini para pembaca akan saling berbeda pendapat bukan? Tulisan ini kami buat setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun mendengarkan pendapat dari para orang tua yang ada di sekitar kami dan dari cerita-cerita nyata yang kami tampung tanpa rekayasa.

Dari berbagai pendapat, baik yang puas maupun kurang puas terhadap sekolah bertaraf Internasional dapat kami simpulkan sebagai berikut :

  1. Ada yang berpendapat dengan menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional sejak usia dini akan membuat anak menjadi cerdas dan mahir berbahasa asing seperti bahasa Inggris, Arab dan Mandarin yang banyak dipelajari di berbagai sekolah di Indonesia.
  2. Pendapat lain mengatakan, pendidikan  bertaraf internasional sejak masa kanak-kanak dapat meningkatkan status sosial mereka, baik dari lingkungan pergaulan maupun dalam hal lainnya. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa mendaftarkan anak mereka ke sekolah biasa atau sekolah negeri hanya akan membuat anak berbaur dengan anak-anak nakal, jorok , tidak mau di atur dan hal-hal negatif lainnya.
  3. Ada juga yang kecewa karena setelah belajar di sekolah internasional, anak mereka dianggap tidak bisa atau tidak mampu mengikuti pelajaran. Anak mereka disuruh mengikuti les yang diadakan di sekolah, dengan metode bertaraf internasional.
  4. Ada pula yang bingung bagaimana mengajarkan bahasa Indonesia ke anaknya, karena si anak sudah terlalu nyaman berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Padahal dengan berjalannya waktu sang anak akan menghadapi pergaulan, ujian sekolah dan interaksi lainnya yang mengharuskan dia fasih berbahasa Indonesia.
  5. Banyak juga yang merasa biaya sekolah internasional terlalu mahal dan tidak efektif dalam mengembangkan karakter anak.

Pada artikel ini kami tidak bermaksud untuk menyalahkan setiap pendapat yang ada. Tetapi kami hanya mencoba menyajikan solusi yang bermanfaat. Pada prinsipnya kami sangat yakin bahwa apapun keputusan orang tua terhadap anaknya pasti demi kebaikan anaknya sendiri juga.

Dari berbagai pendapat diatas perlu kita ketahui bersama bahwa salah satu hal yang sangat dibutuhkan pada anak usia dini untuk dapat menempuh jenjang pendidikan berikutnya adalah Bahasa Ibu.  Mengapa?  Anak yang sejak kecil diajarkan bahasa ibu akan lebih cepat memahami hal-hal yang bersifat konseptual, dibandingkan anak yang sejak kecil di latih berbahasa asing. Di dalam bahasa ibu, termasuk bahasa bahasa daerah, juga terkandung pelajaran tentang norma-norma, nilai dan budi pekerti. Pendapat ini sesuai dengan pendapat direktur Southeast Asian Minister of Education Organization Regional Centre for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel (SEAMEO QITEP) in Language, Felicia Nuradi Utorodewo.

“Anak yang diajarkan beberapa bahasa, kecenderungan untuk dapat berbicara lebih lambat. Sebab, di dalam berbicara, dia harus tahu hubungan suatu konsep dengan kata itu. Kalau kita bicara kursi maka konsepnya tempat duduk. Jadi penanaman konsep akan lambat karena anak bingung dengan banyak bahasa.” http://sp.beritasatu.com/nasional/anak-yang-diajarkan-bahasa-ibu-lebih-cepat-paham-konsep/65512

Bahkan dalam belajar bahasa asing, seperti halnya bahasa Inggris, akan cepat dikuasai anak yang sebelumnya telah memahami bahasa ibu mereka. Hasil survei analisis yang juga dilakukan  SEAMEO QITEP in Language menunjukkan ada kebutuhan yang sangat perlu dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia.  Kebutuhan itu adalah pengembangan program Pendidikan Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu bagi siswa-siswi Sekolah Dasar, terutama di daerah pelosok di Indonesia. Dr. Shaeffer, seorang pakar pendidikan UNESCO mengatakan, sangat penting untuk memahami fase belajar yang disesuaikan dengan perkembangan anak dalam berbahasa. Jika secara umum mereka terpapar dengan Bahasa Ibu, maka bahasa tersebut hendaknya digunakan pula dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada mereka.
(http://scholae.co/web/read/846/bahasa.ibu.dorong.anak.lebih.cepat.paham.konsep.)

Hal yang tidak kalah penting adalah penanaman nilai Agama. Mengapa? karena tujuan diajarkannya pendidikan agama kepada anak sejak dini adalah agar anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang memiliki karakter yang baik sejak usia dini. Mengenal Tuhan sejak dini akan mendidik mental anak menjadi tidak sombong, menghargai, menyayangi dan hal-hal positif lainnya.

Menurut Piaget, dalam teori perkembangan moral terdapat 2 tahap, yaitu :

  • Heteronomous Morality. Usia 5 – 10 tahun. Anak sudah mengetahui apa itu moral tetapi anak masih belum bisa merubah atau mengembangkan moralnya. Anak belum bisa mengikuti aturan dan anak belum menyadari moralnya.
  • Autonomous Morality. Usia 10 tahun ke atas. Anak sudah memiliki moral dan anak sudah mulai bisa merubah atau mengembangkan moralnya. Anak sudah mengikuti aturan dan sudah sadar akan moralnya.

https://www.kompasiana.com/lutfinamalia/apa-pentingnya-pendidikan-agama-dan-moral-pada-anak-usia-dini_58b13643c6afbd392b3f4883

Proses belajar pada tahapan berikutnya juga sangat bergantung bagaimana moral anak kita dari usia dini. Contoh yang paling sederhana, anak dengan moral yang baik akan menyadari bahwa berputus asa terhadap sesuatu masalah adalah tidak pantas, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Masih banyak contoh dari pentingnya moral di usia dini pada saat nanti anak kita di tingkat SD, SMP, hingga dewasa.

“Pendidikan agama di sekolah sebagai salah satu upaya pendewasaan manusia pada dimensi spiritual-religius. Adanya pelajaran agama di sekolah di satu pihak sebagai upaya pemenuhan hakekat manusia sebagai makhluk religius (homo religiousus). Sekaligus di lain pihak pemenuhan apa yang objektif dari para siswa akan kebutuhan pelayanan hidup keagamaan. Agama dan hidup beriman merupakan suatu yang objektif menjadi kebutuhan setiap manusia.”

Perlu diperhatikan bahwa janganlah menyekolahkan anak di sekolah yang berlandaskan bukan kepada agama Anda sebagai orang tua. Sebagai contoh, jika Anda seorang muslim, jangan menyekolahkan anak Anda di sekolah katolik atau agama lainnya, dan demikian sebaliknya. Jika lingkungan Anda hanya ada sekolah yang berbeda dengan Agama yang Anda anut, maka pastikan sekolah itu menyediakan guru agama yang sesuai dengan agama Anda, atau jika tidak ada, datangkan guru secara privat di rumah. Bukankah sekarang di setiap daerah telah ada sekolah negeri atau sekolah swasta yang umum? Kenapa hal ini menjadi keharusan? Karena jika dilakukan akan membuat goncangan pada kejiwaan anak Anda. Setiap Agama memiliki pedoman tersendiri di setiap kitabnya. Pedoman itu pasti ada perbedaannya bukan? Ketika di sekolah si anak diajarkan tentang Agama yang berbeda dengan anda sekeluarga atau minimal mengikuti perayaan Agama lainnya yang merupakan basis keyakinan sekolah itu, lalu sesampai di rumah si anak diajarkan tentang Agama yang anda anut maka secara langsung atau tidak langsung si anak akan menjadi bimbang bukan? Mungkin anda tidak akan melihat secara langsung, akan tetapi dengan berjalannya waktu anda akan melihat dari bagaimana anak Anda mengenal dan menilai akan Tuhan. Hal ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, pasal 12, ayat (1) huruf a, mengamanatkan:

Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.”

http://www.kpai.go.id/artikel/implementasi-pendidikan-agama-di-sekolah-dan-solusinya/

Bukan hanya di sekolah negeri, juga di sekolah swasta, setiap siswa/i berhak mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan agamanya harus dipenuhi. Maka pemerintah berkewajiban menyediakan/mengangkat tenaga pengajar agama untuk semua siswa sesuai dengan agamanya baik sekolah negeri maupun swasta. Pasal 55, ayat (5) menegaskan:

Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana dan sumber daya secara adil dan merata dari pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.

Jadi menurut kami, bagi para sahabat yang tetap menginginkan buah hatinya bersekolah di sekolah bertaraf internasional sejak usia dini, pastikan untuk menanamkan terlebih dahulu nilai agama dan bahasa ibu kepada anaknya. Jika perlu, pastikan sekolah tersebut memulai pendidikannya dari nilai agama dan memulai dengan bahasa ibu.

Bagi para sahabat yang memilih di sekolah negeri, jangan berkecil hati jika saat ini anda merasa demikian. Karena proses pendidikan anak akan tetap bergantung dari lingkungan pertama mereka, yaitu keluarga. Agama dan bahasa ibu sangat penting dimulai dari keluarga, bukan dari sekolah. Jangan pernah melupakan bahwa Tuhan Sang Maha Pencipta menitipkan anak itu kepada Anda sekeluarga, bukan kepada sekolah dan tempat kursus. Sekolah dan tempat kursus adalah tempat anda berinvestasi agar anak anda sukses dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini.

Mungkin pendapat yang lebih objektif adalah, pilihlah lingkungan sekolah yang baik.  dan Bagaimana memilih sekolah yang berlingkungan baik akan lebih tepat jika dilihat langsung dan ditanyakan ke orang-orang terdekat anda. Bukan hanya sekedar mengikuti tren seperti orang tua jaman now 😀 Bagaimana dengan masalah kualitas guru? Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) telah menjadi perhatian pemerintah. Oleh karena itu peningkatan kualitas guru-guru PAUD sangat signifikan. http://paud.kemdikbud.go.id/2017/11/21/ibu-negara-irina-joko-widodo-paud-universal-kunci-masa-depan-anak/ Hal ini membuat kita sebagai orang tua mempunyai banyak pilihan. Sekolah Usia Dini bertaraf Internasional dengan biaya yang mahal pun bukanlah satu-satunya pilihan.

Sebagai tambahan, ada orang tua yang merasa bahwa dengan menyekolahkan anak mereka di sekolah dan memberikan les di tempat bimbingan belajar (bimbel), maka secara otomatis mereka bisa melepaskan tanggung jawab mereka dalam mendidik anak. Tidaklah demikian adanya. Pendidikan dasar yang suka atau tidak suka akan diterima anak adalah dari orang Tua nya. Sikap orang tua yang baik ataupun yang buruk akan dijadikan contoh oleh anaknya. Kasih sayang berbalut waktu dan masa-masa indah orang tua dengan anak adalah kunci utama. Mungkin anda tidak mengerti bagaimana cara mengajarkan membaca kepada anak anda, akan tetapi dengan menemaninya, ikut ke sekolah atau ke tempat bimbel, lalu berkonsultasi dengan para guru akan membuat fondasi dasar bagi anak anda dalam belajar. Kegiatan belajar anak dari usia dini sampai dengan SMA akan tetap bertumpu pada 3 faktor yang harus selalu saling bekerjasama, apakah itu?

Orang Tua ——-Sekolah (Formal)——-Bimbingan Belajar (Non Formal)

Kesimpulan dari semua tulisan ini adalah :

  1. Pendidikan anak usia dini yang efektif adalah dimulai dari agama dan pemahaman akan Bahasa ibu.
  2. Sekolah bertaraf internasional bagi anak usia dini bukanlah sebuah jaminan sukses bagi anak. Kesuksesan akan tetap bergantung kepada pendidikan yang diterima anak pertama kali, melalui orang tuanya sebagai fondasi dasar keberhasilan.
  3. Uang bukan segalanya dalam memilih sekolah untuk anak usia dini, hilangkan anggapan bahwa semakin tinggi biaya maka semakin bagus sekolah itu.
  4. Percayalah bahwa pendidikan yang baik bagi anak Anda adalah kerjasama dan koordinaasi antara orang tua, sekolah (formal) dan bimbingan belajar (Bimbel). Jangan serahkan begitu saja pendidikan anak anda karena kesibukan anda. Karena selain egois dan tidak bertanggung jawab, anda juga mengorban masa indah anak anda begitu saja.

Demikianlah tulisan ini kami buat, mohon maaf jika ada kesalahan atau kata-kata yang membuat sahabat dan pembaca tersinggung, karena tidak ada niat selain mencoba memberikan solusi kepada semua dan membagikan hal yang bermanfaat.

Best regard

Senopati Education Center

Comments

  • speed mandarin
    Reply

    Keren Pak, betul sekali artikel nya, saya setuju.

  • sec
    Reply

    terimakasih Pak 🙂

  • Vitria
    Reply

    Kesimpulannya apa Pak?

    • sec

      Orang tua harus berperan aktif terhadap pendidikan anak 🙂

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.