Karakter Entrepreuner

Kata Wirausahawan atau “pengusaha” diambil dari bahasa Perancis “entrepreneur” yang pada mulanya berarti pemimpin musik atau pertunjukan. Didalam dunia usaha seorang entrepreneur adalah pemimpin dan penentu ibarat seorang komposer musik , pencipta lagu di sebuah Band. Seniman sepak bola layaknya Diego Armando Maradona dan lainnya.
Wikipedia menuliskan bahwa untuk memulai usaha , entrepreneur dibagi menjadi 4 sub kategori. Sub kategori ini akan menentukan kemampuan yang diperlukan oleh seorang entrepreneur, yaitu :
1. Penemu, penemuan atau metodologi, mendefinisikan konsep, unik, baru
2. Inovator , entrepreneur ini menerapkan sebuah penemuan atau teknologi baru atau metodologi guna memecahkan masalah baru atau memulai usaha baru
3. Marketer , entrepreneur ini juga mampu mengindentifikasikan kebutuhan dipasar juga dapat memenuhiny dengan produk baru atau produk subtitusi baik itu milik sendiri atau milik orang lain yang lebih efesien
4. Oportunis, entrepreneur ini pada dasarnya seorang broker atau pialang, makelar atau affiliate yang menyesuaikan antara kebutuhan dengan jasa diberikan serta komisi yang didapat
Ke empat kategori entrepreneur diatas memiliki satu kesamaan, yaitu Pendobrak.

Tanamkan pada diri Anda mulai hari ini bahwa Anda seorang pendobrak, Anda memiliki gairah dan komitmen yang tidak dimiliki orang lain. Anda memiliki kemampuan untuk “melanggar aturan” yang menghambat Anda melakukan kegiatan. Anda seorang pendobrak karena Anda ingin melakukan sesuatu yang hebat, ingin memiliki karir yang memuaskan, investasi yang banyak, kaya raya, dan tidak ingin mengorbankan diri sendiri demi kesuksesan itu2.

Mengapa harus menjadi seorang Entrepreneur ?
Entrepreneur bukanlah ilmu baru, sejarah telah membuktikan bagaimana dunia telah berkembang pesat dengan adanya para entrepreneur. Menjadi seorang entrepreneur adalah cita-cita yang mulia. Banyak tokoh-tokoh besar didunia adalah seorang entrepreneur bahkan Nabi besar Islam , Muhammad SAW , tokoh paling berpengaruh didunia3. adalah seorang entrepreneur sebelum akhirnya menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun di Gua Hira Arab Saudi , Nabi Muhammad SAW sudah belajar berdagang semenjak beliau kecil, semenjak masih dalam asuhan Halimah yang mengasuh beliau saat beliau masih kecil. Beliau selalu menjunjung tinggi kejujuran dalam setiap transaksi perdagangan yang dilakukan, sehingga tak heran jika akhirnya barang dagangannya laris diburu pembeli.
Dengan menjadi pengusaha kita bisa membantu lebih banyak orang . Untuk membantu orang, kita tidak harus menjadi seorang pengusaha. Namun, untuk membantu lebih banyak orang, kita perlu menjadi seorang pengusaha . Untuk membantu seseorang, siapapun bisa melakukannya. Ketika ada pengemis di pinggir jalan dan kita memberinya uang, maka kita dapat dikatakan membantu pengemis tersebut. Ketika ada teman kita yang mengalami musibah, kita memberinya bantuan, maka kita bisa disebut membantu teman kita tersebut, dan hal itu bisa dilakukan oleh semua orang, asalkan ia mempunyai niat.
Dengan menjadi seorang pengusaha berarti kita telah membantu pemerintah kita dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Bukan rahasia lagi jika saat ini banyak sarjana dari perguruan tinggi yang menjadi seorang pengangguran, dan kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah akan hal ini. Menjadi seorang pengusaha atau karyawan adalah pilihan hidup, kita bisa memilih salah satu diantara keduanya dengan menanggung resiko masing-masing. Sehingga , bila kita tidak ingin menjadi beban bagi pemerintah maupun bagi orang tua kita karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Menurut tokoh pengusaha atau entrepreneur atau wirausahawan Indonesia, Ir. Ciputra, agar masalah kemiskinan dan pengangguran teratasi, setidaknya diperlukan 4 juta pengusaha baru dinegara kita.
Dengan menjadi seorang pengusaha kita akan memiliki waktu lebih bersama keluarga. Keluarga adalah salah satu elemen terpenting dalam hidup kita, apapun akan kita lakukan untuk membahagiakan keluarga kita. Dengan menjadi seorang pengusaha kita akan mempunyai waktu yang lebih bersama keluarga kita . Jika kita menjadi seorang karyawan, bisa saja saat Hari Raya Idhul Fitri kita masih dituntut untuk bekerja sehinga tidak bisa berkumpul dengan keluarga tercinta, namun tidak jika kita sebagai pemilik usaha. Kita bisa berlibur beberapa hari untuk berkumpul dengan keluarga kita di hari yang bahagia tersebut. Selain itu, saat anak-anak kita sedang menjalani liburan kita bisa menemani mereka untuk menjalani waktu-waktu yang berharga sebagai sebuah keluarga, yang tidak semua karyawan bisa melakukannya karena adanya batas cuti yang ditetapkan oleh setiap perusahaan. Namun tentunya semua itu dilakukan dengan pertimbangan agar tidak mengganggu bisnis yang sedang kita jalani.
Membangkitkan Karakter seorang Entrepreneur

  1. Daftar ciri-ciri dan sifat-sifat profil seorang wirausahawan: Percaya Diri.
    Wataknya : Keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
  2. Berorientasikan tugas dan hasil.
    Wataknya : Kebutuhan akan prestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan emiliki inisiatif.
  3. Pengambil Resiko.
    Wataknya : Memiliki kemampuan mengambil resiko dan suka pada tantangan.
  4. Kepemimpinan.
    Wataknya : Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
  5. Keorisinilan.
    Wataknya : Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
  6. Berorientasi ke masa depan.
    Wataknya : Persepsi dan memiliki cara pandang/ cara pikir yang berorientasi pada masa depan.
  7. Jujur dan tekun.
    Wataknya : Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja

Dari daftar ciri dan sifat watak seorang wirausahawan di atas, dapat kita identifikasi sikap seorang wirausahawan yang dapat diangkat dari kegiatannya sehari-hari, sebagai berikut:

  • Disiplin : Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti dari kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan komitmen wirausahawan terhadap tugas dan pekerjaannya.Ketepatan yang dimaksud bersifat menyeluruh, yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja dan sebagainya.Ketepatan terhadap waktu, dapat dibina dalam diri seseorang dengan berusaha menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang direncanakan.Sifat sering menunda pekerjaan dengan berbagai macam alasan, adalah kendala yang dapat menghambat seorang wirausahawan meraih keberhasilan.Kedisiplinan terhadap komitmen akan kualitas pekerjaan dapat dibina dengan ketaatan wirausahawan akan komitmen tersebut.Wirausahawan harus taat azas. Hal tersebut akan dapat tercapai jika wirausahawan memiliki kedisiplinan yang tinggi terhadap sistem kerja yang telah ditetapkan. Ketaatan wirausahawan akan kesepakatan-kesepakatan yang dibuatnya adalah contoh dari kedisiplinan akan kualitas pekerjaan dan sistem kerja.
  • Komitmen Tinggi : Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki komimten yang jelas, terarah dan bersifat progressif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap dirinya sendiri dapat dibuat dengan mengidentifikasi cita-cita, harapan dan target-target yang direncanakan dalam hidupnya.Sedangkan contoh komitmen wirausahawan terhadap orang lain terutama konsumennya adalah pelayanan prima yang berorientasi pada kepuasan konsumen, kualitas produk yang sesuai dengan harga produk yang ditawarkan, problem solving bagi masalah konsumen, dan sebagainya.Seorang wirausahawan yang teguh menjaga komitmennya terhadap konsumen, akan memiliki nama baik (goodwill) di mata konsumen yang akhirnya wirausahawan tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen, dengan dampak pembelian terus meningkat sehingga pada akhirnya tercapai target perusahaan yaitu memperoleh laba yang diharapkan.
  • Jujur : Kejujuran merupakan landasan moral yang terkadang dilupakan oleh seorang wirausahawan. Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks.Kejujuran mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang ditawarkan, kejujuran mengenai promosi yang dilakukan, kejujuran mengenai pelayanan purna jual yang dijanjikan dan kejujuran mengenai segala kegiatan yang terkait dengan penjualan produk yang dilakukan oleh wirausahawan.
  • Kreatif dan Inovatif :  Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi.Daya kreatifitas tersebut sebaiknya adalah dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar.Gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru seringkali ide-ide jenius yang memberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil.Namun, gagasan-gagasan yang baikpun, jika tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, hanya akan menjadi sebuah mimpi.Gagasan-gagasan yang jenius umumnya membutuhkan daya inovasi yang tinggi dari wirausahawan yang bersangkutan.Kreativitas yang tinggi tetap membutuhkan sentuhan inovasi agar laku di pasar.Inovasi yang dibutuhkan adalah kemampuan wirausahawan dalam menambahkan nilai guna/nilai manfaat terhadap suatu produk dan menjaga mutu produk dengan memperhatikan “market oriented” atau apa yang sedang laku dipasaran. Dengan bertambahnya nilai guna atau manfaat pada sebuah produk, maka meningkat pula daya jual produk tersebut di mata konsumen, karena adanya peningkatan nilai ekonomis bagi produk tersebut bagi konsumen.
  • Mandiri :  Seseorang dikatakan “mandiri” apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalam mengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain.Kemandirian merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan.Pada prinsipnya seorang wirausahawan harus memiliki sikap mandiri dalam memenuhi kegiatan usahanya.
  • Realistis : Seseorang dikatakan Realistis bila orang tersebut mampu menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasionil dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/perbuatannya.Banyak seorang calon wirausahawan yang berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena wirausahawan tersebut tidak realistis, obyektif dan rasionil dalam pengambilan keputusan bisnisnya.Karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam melakukan seleksi terhadap masukan-masukan/sumbang saran yang ada keterkaitan erat dengan tingkat keberhasilan usaha yang sedang dirintis.

Jadilah pendobrak, dan mulailah dari sekarang. Menjadi seorang pengusaha tidak hanya butuh teori, namun pengalaman dalam menjalankan usaha juga sangat penting. “ Kita harus cepat dalam memulai bisnis, agar cepat gagal. Karena dari kegagalan tersebutlah kita dapat belajar untuk menjalankan bisnis yang lebih baik “. Dari pernyataan tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa kita harus menjadi seorang pengusaha sedini mungkin. Setiap ada peluang untuk memulai suatu usaha, maka kita harus cepat bergerak. Banyak orang yang hanya berfikir tentang usaha yang akan dilakukannya, tanpa adanya langkah kongkrit untuk mewujudkan hal itu, dan hal inilah yang harus diubah oleh masyarakat kita.

Best Regards

Tim Akademik SEC

Comments