Absensi

Mr. Gembul bagian 2

Permisi, lanjut lagi ya ceritanya guys ! (sebetulnya cerita ini ada yang baca gak sih? hehehe).ย  ย  O iya, by the way kemarin kita sampai mana ya ceritanya? kalau yang mau lihat langsung saja ke link ini ya ๐Ÿ˜‰ Mr. Gembul bagian 1ย . Setelah saya lihat ke link itu, ternyata ceritanya sampai saya mulai tertarik mengajar ya ๐Ÿ˜€

Baik, suka tidak suka dengan senang hati saya akan melanjutkannya, Kalau ceritanya tidak asyik ya di asyikin saja, lumayan dapat pahala loch, pahala membantu penulis yang maksa minta tulisannya di baca ๐Ÿ˜€ย  Teman-teman yang mau ikut cerita juga boleh koq, lumayan buat berbagi dan menambah wawasan juga, kirimin aja ceritanya ke gmail kita di senopatieducationcenter@gmail.comย ย ย  Begini ceritanya…..

Singkat cerita, saya memulai hobi baru, yaitu membaca. Ternyata bukan hanya sejarah Mandarin saja, tetapi juga ilmu-ilmu lainnya, seperti edisi terbaru komik kungfu boy, Crayon Shincan, Donal Bebek dan lainnya #ehsalah…Sangat hebatnya semangat membaca saya, sampai-sampai ketika ujian semesterpun saya sempatkan ke toko buku kesayangan untuk membaca. Hobi saya ini membawa ke psikologi mengajar. Sebenarnya kesempatan mengajar terbuka dengan adanya peluang menjadi asisten dosen di kampus. Akan tetapi pengalaman selama di bangku SMP dan SMA membuat ketertarikan saya akan pertanyaan “Mengapa di saat SD sampai SMP saya selalu benci dengan kata belajar”. Pencarian akan sesuatu yang membuat belajar itu menyebalkan membuat saya penasaran, bagaimana tidak? coba bayangkan, saya pernah beberapakali gatal-gatal (alergi) ketika mencoba belajar Fisika waktu sekolah. Parah kan? Kata kunci itu masih mengganjal dan harus ditemukan. Sangat menyedihkan memang, pada saat itu mbah Google belum bisa di handalkan dalam hal ini (maksudnya terbatas) atau belum terpikir juga kali ya untuk ke warnet. Pada tahun 1996 belum ada Android, Masih dekat lah dengan era Nokia pisang (huayooo masih ada yang ingat gak bentuknya) hehehe.

Kesempatan mengajar mulai terbuka ketika Paman saya (Kakak dari Ibu Saya) meminta tolong untuk mengajarkan anaknya mengenai PR matematika. Kalau tidak salah waktu itu tentang persamaan 2 variabel. Untungnya materi yang satu ini tidak jauh berbeda dengan yang saya pelajari di bangku kuliah. Dengan mata berbinar-binar penuh dengan unsur semangat yang menggebu-gebu berselimutkan semangat saya segera pergi ke rumah sang Paman. Sampai di sana, ketika melihat sepupu saya, rasanya saya seperti melihat sosok yang tidak asing, siapa? sepertinya itu diri saya sendiri. Malas, Nakal, Ceroboh, Sok Tahu dan sebagainya penyakit anak SMP terbentang di hadapan saya. Di sini saya mencoba melakukan pendekatan dengan contoh penerapan 2 variabel pada kehidupan sehari-hari. Tanpa saya sadari ternyata hal ini sejalan dengan buku-buku psikologi yang saya baca. Belajar harus dalam keadaan Fun tanpa paksaan. Saya banyak menggunakan persamaan yang mudah mereka mengerti, seperti alat musik, games dan mainan…Ketika menjelaskan tentang Variabel, saya menggunakan sinonim alat musik. Contoh :

5 Gitar + 5 Gorengan = 10 Gitar Gorengan

10 Gitar + 10 Gorengan = 20 Gitar Gorengan

——————————————————– +

15 Gitar + 15 Gorengan = 30 Gitar Gorengan

Dan seterusnya, aneh bin maksa kan? tapi ternyata dengan yang aneh-aneh begitu malah mudah dimengerti. Saya termenung dan mengulangi lagi sebuah kata “Belajar harus Fun” yaa itu salah satu hal yang hilang dalam hidup saya, belajar tanpa beban. Hasilnya PR sepupu saya benar semua dan dia mengerti (setelah beberapa hari saya tanya ke dia nilai dari PR nya). Setelah selesai mengajar, entah mengapa hati ini menjadi puas, padahal tidak di bayar loch, apalagi di bayar ya, hehehe. Tanpa di sadari, saking-saking senangnya, saya salah naik bus loch. Jadi ceritanya begini, di jalan raya tempat keluar dari komplek sepupu saya ada 2 jalan berlawanan / 2 arah, nama daerahnya Tabing ( yang orang Padang atau pernah di Padang pasti tahu neh), jalan yang arah pertama adalah jalan ke Lubuk Alung terus lagi bisa ke Pariaman dan sebagainya (keluar kota), lawan arahnya adalah arah ke kota Padang. Nah tanpa sadar ternyata saya naik bus yang arah ke luar kota ๐Ÿ˜€ Saya bilang ama kenek nya (Bahasa Padang saya terjemahkan) , “Da, nanti kalau sudah sampai TELKOM tolong bangunin saya ya”. Si Uda kenek dengan pengertian menyanggupinya. Dan akhirnya saya dibangunkan “Dek, bangun, sudah sampai TELKOM neh”. Saya pun bangun, setelah mengucapkan terimakasih dengan santai saya turun bus, koq ada yang aneh ya, memang sih ada tulisan TELKOM, tetapi…. di bawahnya ada tulisan…..LUBUK ALUNG, alias TELKOM LUBUK ALUNG , hahaha….Ternyata rasa senang itu bisa membunuh juga ya ๐Ÿ˜€ย  malah sudah jam 10 malam yang berarti di daerah seperti Lubuk Alung sudah semakin jarang transportasi untuk ke kota Padang. Untungnya saya membawa uang untuk bertelepon ria di Wartel (warung telepon). HP masih pada kalangan tertentu di zaman itu (mahal). Saya pun menelpon Om saya dan dengan penuh rasa bahagia di hati saya pun bersyukur bahwa Om saya bisa menjemput saya malam itu ๐Ÿ˜€

Setelah kembali berada di rumah, (o iya, di kota Padang ini saya tinggal di tempat Kakak dari Ibu saya) saya langsung mandi dan mulai memainkan gitar butut kesayangan, mencoba merangkai kesenangan dalam sebuah lagu. Banyak pertanyaan yang harus saya jawab, jawaban yang sebenarnya masih saya ragukan pada saat itu, pertanyaan yang berbunyi, apakah memang saya suka mengajar?

 

Bersambung !!

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.