picture1

Mr. Gembul bagian 1

Cerita ini hanya fiktif, jika ada kesamaan cerita atau kesamaan tokoh, maka percayalah! guru juga manusia (koq gak nyambung ya).  Nama saya sengaja dirahasiakan atas permintaan saya pribadi kepada yang punya website untuk alasan yang sangat sederhana, apa itu? karena menurut saya, percuma juga di kasih tahu, tetangga saya aja gak tahu, ngapain kalian mau tahu?, kepo banget sih 😀 . Becanda, jangan ngambek dong yang baca, pangil aja aku Mr. Gembul deh 🙂

Oke, cukup basa-basinya, karena ini kolom saya, suka gak suka berati saya harus cerita di sini, tema yang diangkat kali ini adalah jalan hidup saya sendiri, cerita tentang bagaimana saya yang ganteng ini (hanya kata ibu dan istri saya sih :D) bisa terjatuh didalam dunia ajar mengajar alias menjadi seorang guru. Suka Duka nya? untuk jawaban yang satu ini  akan saya  jawab setelah saya curahkan perjalanan hidup ini dari awal sampai mengajar seperti sekarang ya, nanti kalian sendiri yang menentukan, enak atau tidak menjadi guru. Bagi yang sekarang jadi guru boleh koq sharing atau curhat di kolom komentar 😉

Bagian  1

Diawali pada suatu malam yang indah bertemankan kopi dan gorengan hasil utangan dari warung langganan, seperti layaknya anak SMA galau di tahun 96 an yang masih bingung tentang arah hidup dan tujuan, saya mencoba untuk ber cita-cita. Kantuk demi kantuk teratasi dilanjutkan dengan serangan kecoa dan nyamuk yang bertubi-tubi maka…..PLOK!!!

Kecoa kabur dan nyamuknya kena! eh salah, akhirnya saya menemukan sesuatu bayangan dari cita-cita saya! Dengan bangga pada saat itu saya umumkan bahwa cita-cita saya adalah menjadi seorang musisi terkenal. Kenapa tidak?  saya sering membuat lagu, suka bermusik, berexperimen dengan berbagai jenis musik, tentunya ini sudah sesuai dengan hobi saya dong? bathin saya mulai mencoba menyakinkan akal sehat saya. Hasil perenungan bersama dewan nyamuk dan sekutunya pun saya akhiri dan , singkat cerita,  saya pun terlelap dalam kepuasaan semalam, larut bersama cita-cita baru.

Keesokan harinya dengan semangat juang tinggi, saya mulai mengumpulkan anggota band, banyak lagu yang saya ciptakan akhirnya hanya mentok di lagu-lagu terkenal pada saat itu, maksudnya??? teman-teman saya lebih tertarik membawakan lagu band terkenal seperti Metalica (saya sudah membawakannya sejak SMP), Guns n Roses, RHCP, Nirvana dan lainnya. Kecewa??? namanya cita-cita melalui perenungan panjang,  tentunya harus dipertahankan dong! Saya tetap membuat lagu. Terlalu serius saya membuat lagu, sehingga hasilnya??

  1. Nilai Rapor Sekolah Sampai UMPTN (nama ujian masuk perguruan tinggi tahun 96 an) berantakan
  2. Cewek tidak ada yang mendukung alias jomblo tulen.
  3.  Pergaulan juga ikut berantakan
  4. Nyamuk-nyamuk semakin banyak yang menjadi korban keganasan saya (kebanyakan bergadang)
  5. Sempat terlintas pikiran mengganti aliran musik menjadi dangdut agar terkenal (yang satu ini benar-benar sikap putus asa pada masa itu). Berat sekali memikirkannya 🙁

5 hal diatas berdampak dengan masa Mahasiswa saya juga, Pada masa itu tes masuk perguruan tinggi negeri yang bernama UMPTN memiliki 3 kali kesempatan untuk mencoba dengan masing-masing percobaan terbentang 2 pilihan universitas bersama jurusannya. Apakah yang saya dapatkan?

  1. UMPTN pertama, pilihan Universitas ; pertama adalah Universitas Indonesia (UI) Jurusan Kedokteran (berkat dorongan Almarhum Bapak saya) dan pilihan  kedua adalah Universitas Andalas Padang, Jurusan kedokteran. Kenapa tidak musik? karena hasil yang terjadi membuat saya tidak mungkin memilih musik alias dilarang oleh orang tua saya. Hasilnya???  gagal keduanya.
  2. UMPTN kedua, dengan pilihan yang mulai realistis bagi saya, yaitu Universitas Syiah Kuala Aceh dengan jurusan Ekonomi, dan Universitas Andalas Padang dengan jurusan Sastra Inggris, hasilnya???? gagal juga.
  3. UMPTN terakhir ini saya mencoba menutup mata alias cap cip cup, saya pilih Universitas Cendrawasih Jayapura, jurusan saya pilih yang paling jarang peminatnya dan pilihan kedua tetap di Aceh dengan jurusan sejenis, hasilnya tetap gagal 😀

Putus asa jelas bukan solusi, saya pun memulai hidup baru dan pasrah dikirim ke sumatera barat untuk kuliah di universitas swasta. Cita-cita menjadi musisi terkenal mulai terlupakan dan nyamuk-nyamuk serta kecoa liar pun menyambut hal ini dengan suka cita. Di Universitas yang baru ini saya mengambil jurusan teknik, bukan karena saya pintar, tetapi mungkin karena jodoh saya dapat jurusan itu (apa sih!!!) hehehe.

Di masa menjadi mahasiswa, saya tetap membuat lagu, maklum sudah hobi, semua kehidupan saya buat lagu, sampai-sampai melihat bencong ada di kota Padang pada malam hari pun saya tuangkan dalam sebuah lagu 😀  Kehidupan saya sudah hampir seperti film frozen, sedikit-sedikit nyanyi, hampir mirip juga sama film India ya.

 

 

Kejadian Cikal Bakal menjadi guru bagian 1

(tertarik Bahasa Mandarin)

Pada saat saya menjadi mahasiswa di kota Padang, ada sebuah kejadian yang mau tidak mau membuka pikiran saya menjadi seorang guru tanpa saya sadari. Kejadian ini di awali pada saat uang jajan terlambat dikirim oleh orang tua saya. Hari Senin adalah hari ujian semester dan saat itu saya tidak punya uang sama-sekali. Jarak antara rumah  saya lumayan jauh dari Universitas (Kampus) tempat saya kuliah. Karena sudah tidak mendapat peluang untuk meminjam uang dan tentunya bercampur malu untuk meminjam, saya memutuskan untuk berjalan kaki dari rumah sampai kampus. Pada saat berjalan saya melihat teman-teman saya yang katanya orang pribumi, naik motor dan  kendaraan umum hanya melihat saja saya berjalan dengan keringat disekujur tubuh, mungkin mereka tidak tahu, ada juga yang tertawa (mungkin lucu melihat saya jalan kaki). Fokus saya pada perjalanan terpecah dengan segala prasangka, dari yang baik, prasangka kurang baik, buruk sampai caci maki karena letih melangkah. Terus berjalan sampai akhirnya teman saya yang keturunan China turun dari angkutan umun (angkot) lalu memarahi saya dengan bahasa gaol kota Padang, “lu manga jalan kaki, ikuik gua!” yang artinya dalam bahasa gaol jakarta “ngapain lo jalan kaki, yukkks ikut gue”! dan tanpa ragu orang ini membiayai perjalanan saya dan tidak lupa mengajak saya sarapan.

Kejadian ini membuka wawasan saya, terbayang kembali pada masa saya SMP sampai SMA dimana saya berada dilingkungan penuh rasisme. Orang-orang dipergaulan saya yang selalu tidak suka dengan yang namanya China, sesuatu yang sebenarnya saya tidak pernah mengerti dan tidak pernah ikut-ikutan memusuhi,  karena hal ini jelas bertentangan dengan jiwa seni saya. Pikiran saya mulai terbuka lagi, kenapa saya tidak mempelajari budaya China? Banyak budaya Indonesia seperti Sumatera Barat, tempat asli orang tua saya dan tentunya termasuk hal yang menentukan bahwa jelas saya orang sumatera barat, memiliki kebudayaan yang sangat bagus, akan tetapi banyak juga budaya yang bagus ini menghasilkan orang-orang licik, curang, egois dan lainnya disamping lebih banyak juga orang baik tentunya. Pasti begitu juga dengan China pikir saya saat itu. Tentunya budayanya juga banyak kebaikan.

Tentu bukan kepercayaan spiritualnya yang ingin saya pelajari, karena bagi saya Islam sudah harga mati (dari SMP saya sudah mencoba membandingkan Agama demi Agama)  walaupun sikap saya belum mencerminkan muslim sejati, dari SMP saya sudah bertekat untuk menjadi Islam. Sejak kejadian itu saya rajin mencari bacaan gratis (internet masih jarang di tahun itu) dan tempat yang tepat dan bisa berlama-lama adalah di toko buku kesayangan Anda 😀

Bersambung!!

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.